Minut – Komitmen Pemerintah (Pemkab) Kabupaten Minahasa Utara (Minut) dalam mempercepat transformasi desa berbasis digital kembali dipertegas melalui kolaborasi strategis dengan jaringan diaspora global. Bupati Minahasa Utara, Dr. Joune Ganda, SE, MAP, MM, MSi, menyatakan keseriusannya mendorong pembangunan desa berkelanjutan lewat pemanfaatan teknologi digital, Jumat (25/4/2026).
Pernyataan itu disampaikan Bupati dalam pertemuan virtual bersama Indonesian Diaspora Network Global. Forum yang digelar via Zoom Meeting tersebut membahas kerja sama program digitalisasi desa, sekaligus menjadi wadah bertukar gagasan antara Pemkab Minut, akademisi, dan diaspora Indonesia di berbagai negara.
Mengawali diskusi, Bupati Joune Ganda mengapresiasi partisipasi aktif diaspora. Ia menyapa langsung sejumlah peserta, antara lain Hila Kopong dari Australia, Natalia Wijaya dari Jerman, dan Jeffrey Liando dari Amerika. “Terima kasih kepada seluruh tim diaspora yang sudah meluangkan waktu untuk bertukar pikiran dan memikirkan bagaimana kita bisa membangun dari desa,” ujar Joune Ganda.
Bupati menyebut Minahasa Utara termasuk daerah yang progresif dalam pengembangan sistem informasi desa. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi kendala.
“Desa-desa yang sedang kita kembangkan menjadi desa mandiri masih menghadapi persoalan jaringan internet yang belum merata dan listrik yang belum 24 jam. Ini tantangan yang tidak bisa kita atasi sendiri,” jelas Bupati.
Selain infrastruktur, keterbatasan SDM di tingkat desa juga disorot. Menurutnya, pergantian sistem atau aplikasi yang terlalu sering justru menyulitkan aparat desa beradaptasi. Karena itu, ia menekankan pentingnya sistem digital yang berkelanjutan, berumur ekonomis panjang, dan tidak sering berganti.
Bupati Joune menegaskan seluruh sistem yang digunakan harus selaras dengan kebijakan pemerintah pusat, termasuk integrasi dalam program Satu Data Indonesia.
“Kita harus memastikan sistem yang dipilih tidak sering berganti, sehingga desa bisa beradaptasi dengan baik. Selain itu, harus _inline_ dengan program pemerintah pusat terkait integrasi data,” tegasnya.
Dalam forum tersebut, Bupati melihat peluang besar keterlibatan diaspora untuk membuka akses pasar internasional bagi produk desa. Ia optimistis kolaborasi ini mampu meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
“Dengan adanya diaspora dan sistem yang terintegrasi, masyarakat desa bisa lebih mudah mengangkat potensi lokal hingga menembus pasar global,” kata Bupati.
Ia berharap ada pendampingan dari diaspora mulai dari pengelolaan sumber daya, peningkatan kualitas produk, hingga penerapan standar internasional agar produk desa memiliki daya saing global.
Pertemuan turut dihadiri Ginanjjar Ashari dari OpenDesa, Julianti dari ADN Global, diaspora Hila Kopong, Natalia Wijaya, Jeffrey Liando, serta akademisi Universitas Sam Ratulangi. Dari Pemkab Minut hadir Asisten I, Kepala Bappeda, Inspektur, Dinas Kominfo, dan Kabag Pemerintahan.
Diskusi berlangsung dinamis dengan beragam masukan strategis. Masukan tersebut diharapkan menjadi dasar perumusan kebijakan digitalisasi desa yang lebih efektif, terarah, dan berkelanjutan.
Melalui sinergi pemerintah daerah dan diaspora global, transformasi digital desa di Minahasa Utara diharapkan tidak hanya mempercepat pembangunan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (**)
